shutterstock_519560572

Bagaimana Artificial Intelligence dapat mengubah dunia?

Selama lebih dari 20 tahun, lebih dari 10 miliar perangkat Internet of Things (IoT) telah mengelilingi kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertumbuhannya yang luar biasa semakin dipercepat dengan peluncuran 5G — Business Insider percaya bahwa akan ada lebih dari 64 miliar perangkat IoT di seluruh dunia pada tahun 2025.

Bersamaan dengan pertumbuhan IoT, kecerdasan buatan (AI) telah muncul sebagai fenomena teknologi berikutnya. Jim Goodnight, sering disebut sebagai “ayah baptis AI” (berkat karyanya pada teknologi untuk meningkatkan hasil panen 45 tahun yang lalu), baru-baru ini menggambarkan AI dalam sebuah wawancara dengan Forbes sebagai “pengubah permainan bagi masyarakat,” dengan potensi untuk merevolusi hubungan kita dengan teknologi.

Arti dari AI sendiri adalah simulasi dari kecerdasan buatan yang dimodelkan di dalam mesin dan diprogram agar bisa berpikir sama seperti manusia. Konsepnya yakni dalam proses mendapatkan informasi, mengolah dan mengeksekusi informasi dan proses dalam melakukan koreksi atas kesalahan yang mungkin terjadi

AI berpotensi mengubah banyak sektor seperti teknologi informasi, telekomunikasi, transportasi, manajemen lalu lintas, perawatan kesehatan, pendidikan, peradilan pidana, pertahanan, perbankan dan pertanian. Untuk mewujudkan potensi penuhnya, pemerintah perlu menciptakan kebijakan publik yang menumbuhkan inovasi AI sekaligus mengurangi konsekuensi sosial yang tidak diinginkan.

AI membutuhkan pengalaman dan data supaya kecerdasannya bisa lebih baik lagi. Poin penting dalam proses AI adalah learning, reasoning dan self-correction. AI perlu diupdate secara berkala untuk memperkaya pengetahuannya. Proses belajar AI pun tidak selalu disuruh oleh manusia, melainkan AI akan belajar dengan sendirinya berdasarkan pengalaman AI saat digunakan oleh manusia.

Hal yang cukup menarik dari AI adalah kemampuan melakukan self correction atau mengoreksi diri sendiri. Jika kamu pernah mendengar ungkapan AI “Jika aku tidak pernah menang, maka setidaknya aku tidak boleh kalah” sedikit ngeri juga ya. AI memang diprogram untuk itu terus belajar dan membenahi diri sendiri dari kesalahan yang pernah dibuatnya.

Contoh penerapan kecerdasan buatan yang paling familiar adalah asisten virtual. Seperti yang kita ketahui, ada banyak penyedia asisten virtual seperti Google assistant, Siri atau Alexa. Asisten virtual ini juga bisa berinteraksi sama halnya seperti kita berinteraksi dengan manusia. Selain itu, asisten virtual dapat mencatat jadwal harian kita. Asisten virtual ini juga bisa kita perintahkan untuk melakukan pengiriman pesan, memutar musik, membuka aplikasi dan perintah lainnya.

Masa depan AI akan diciptakan oleh kita. Hal ini akan mempengaruhi pilihan yang kita buat dan juga dalam tindakan yang kita ambil. Meskipun teknologi revolusioner ini memiliki potensi untuk menjadi satu-satunya inovasi manusia paling berpengaruh dalam sejarah, kita tidak memiliki cara untuk memprediksi bagaimana hal itu akan berperilaku. AI diprediksi akan terus berkembang dan lebih cerdas lagi dan kita tidak dapat menghindarinya.

Jadi bagaimana cara menanggapi AI yang akan terus berkembang setiap tahunnya?  Apakah AI memberikan dampak buruk bagi manusia atau malah memberikan dampak positif yang akan merubah peradaban manusia menjadi lebih baik lagi? (Jess/ita)

4 Responses

Leave a Comment